Jumat, 04 November 2011

#cerpen pertamaku


LANTUNAN CINTA UMMI
Oleh: Yusna Fadliyyah Apriyanti
            “Bismillah hirrohman nirrohim… artinya Dengan Menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang Ai, anak Ummi yang sholihah”. Begitu panggilanku waktu kecil, mungkin sulit untuk banyak orang memanggil lengkap dengan nama Aisyah. Ummi terus menjelaskan ayat per ayat dengan artinya juga penjelasannya yang selalu ia ulang tiap malam.
“Jadi Aisyah sayang, setiap kamu melakukan sesuatu nanti, biasakan selalu diawali dengan menyebut namaNya, Ar rahman yang artinya Maha Pengasih dan Ar Rahim artinya Maha Penyayang, walaupun ummi sayang sama Aisyah, tapi sudah pasti cinta Allah untuk Aisyah lebih besar dari cinta ummi”, Itulah penjelasan ummi untuk satu ayat mujarab itu, Bismillahirrohmanirrohim.. Sungguh sangat berarti kata-kata itu bagiku.
Saat itu pasti, aku sudah terlelap tidur di dalam dekapannya. Di dalam kehangatan cinta yang masih bisa kurasakan hingga detik ini, walaupun sulit untuk dinikmati. Tapi walau bagaimanapun, itulah waktu yang paling berharga bagiku.
***
Pagi itu aku pulang ke rumah setelah 6 Bulan harus menahan semua rasa rindu pada keluargaku. Terang saja begitu lama, karena aku saat ini sudah berumur 14 tahun. Aku memutuskan untuk melanjutkan studi ku di MTs Husnul Khotimah, yaitu suatu Pondok Pesantren yang berada di Kuningan Jawa Barat,saat lulus dari sekolah dasar.
Saat itu sedang liburan semester ganjil, untungnya di pesantrenku selalu ada konsul untuk setiap anak-anak yang tinggal di luar daerah, sehingga abi dan ummi tak perlu harus jauh-jauh menjemput ke pondok. Bis konsul berangkat jam 10 malam untuk menghindari kemacetan di jalan dan kita para penumpangnya bisa tidur juga hingga sampai di tempat tujuan jam 4 pagi.
Pagi ini abi sudah janji menjumputku di tempat pemberhentian terakhir bis konsul, yaitu di Islamic Center, Bekasi Barat. Sudah 1 jam aku menunggu kedatangannya, tapi tak juga kunjung terlihat tanda-tanda kedatanganya. Teman-temanku satu per satu harus pergi mengikuti orang tuanya yang telah menjemput mereka. Aku hanya bisa memberi salam dan sedikit senyuman kepada mereka, walau sebenarnya hatiku semakin tak tenang.
“Ai, aku duluan yah”, temanku Lula membuyarkan pandanganku yang sedang fokus melihat jalanan.
“Oh ia la”, Jawabku sambil kupaksa tersenyum
“Tidak mau ikut denganku? Bukankah rumah kita sejalan?”, Katanya bertanya kembali setelah tadi sudah ku tolak ajakannya.
“Ia, tidak la”, Kataku yakin, sambil memegang tanganya. Walau sebenarnya aku masih ingin ia temani sampai abi datang, tapi aku tahu bagaimana perasaanya yang tak sabar lagi untuk pulang ke rumahnya.
Rasanya ingin sekali aku marah pada abi, apakah abi tidak memahami perasaanku, sudah sekian lama aku menunggu tanpa kejelasan sama sekali. Aku sudah mencoba menghubunginya tapi tetap saja abi tidak menerima telefeonku. Saat do’a terus mengalir bersamaan dengan ketidak jelasan ini, akhirnya klakson mobil mengagetkanku. Rasanya ingin sekali aku menangis melihat pria itu, tak tahu harus bagaimana, marahkah atau bahagiakah, aku langsung berlari menghampirinya, memeluknya kemudian baru kupukul perutnya agak keras, sebagai tanda bahwa abi sudah membuat kesalahan karena membiarkanku menunggu.
“Abi jahaat”, Kataku sambil memeluknya dengan erat, sungguh walaupun kesal dan memukul perutnya, tapi percayalah itu caraku menyayanginya.
“Aduh Aisyah sayang, maafin Abi yah.. Aisyah mau memukul bagian yang lain lagi?”, Abi malah menggodaku, sambil menawarkan perut sebelahnya untuk dipukul lagi. Begitulah abi dengan sifatnya yang selalu membuat aku harus kembali menahan amarah, karena Abi sangat pandai membuat semua orang tersenyum.
Setelah sedikit memberikan sebuah ‘salam pertemuan’, aku meminta untuk segera pulang. Aku baru menyadari bahwa ummi tidak ada bersama abi saat itu.
“Ummi dimana bi? Kenapa tidak ikut menjemput Ai?”
“Tenang Ai, ummi sedang mempersiapkan sesuatu di rumah. Kita punya kejutan untuk Aisyah.. Jadi jangan cemberut mulu yah”. abi memulai perbincangan di dalam mobil dengan membuatku penasaran. Itulah abi dengan keahliannya membuat aku harus memutar balik otak agar bisa menebak semua teka-tekinya. Aku sungguh bersyukur mempunyai Abi yang sangat ceria, yang selalu menularkan keceriaanya kepada keluarga kecilku. Oh yah, aku belum menceritakan tentang abi. Abi seorang dokter di salah satu rumah sakit di Jakarta. Beliau aktif juga di salah satu lembaga sosial, yang terbiasa dengan program bantuannya pergi keluar kota bahkan ke luar negri sebagai seorang relawan.
***
“Assalamu’alaikum”, Teriakku saat membuka pintu rumah.
            “Wa’alaikumsalam”, Jawab ummi samar-samar. Aku tahu itu suara ummi, lansung saja tanpa basa basi aku menghampirinya. Saat itu ingin rasanya aku langsung memeluknya, tapi aku berhenti karena terkaget melihatnya terbujur di atas kasur. Yah, terbujur dengan mukanya yang pucat.
            “Apa yang terjadi dengan ummi?”. Sungguh aku ingin menangis melihatnya, tapi ku tahan sejenak. Aku tak mau melihat ummi sedih saat melihatku menangis. Melihat Ummi terbujur di tempat tidur, Abi langsung berlari ikut menghampiri.
            “Apakah ummi tidak enak badan lagi?”, Tanya abi seakan tahu banyak tentang keadaan ummi saat itu,
            “Ia, tapi Alhamdulillah sudah tidak apa-apa. Ummi cuma habis istirahat sebentar. Ummi minta maaf tidak bisa ikut menjemput Aisyah”. Katanya pelan-pelan, walaupun nampak dari raut wajahnya yang pucat pagi itu, tapi ia coba tersenyum dan terus meyakinkan kita bahwa ia baik-baik saja.
            “Ia mi, Alhamdulillah Aisyah udah nyampe rumah dengan selamat, walupun harus menunggu abi satu jam”. Kataku sambil melirik Abi dengan sinis dan mencoba menghargai jerih payah ummi untuk tetap tersenyum menyambutku.
            “Pasti abi mulai lagi yah Ai. Dasar abi.. memang selalu bisa bikin Aisyah ngambek”. Ummi mulai mencubit Abi, yang sedang memperlihatkan muka tanpa rasa bersalahnya.
            “O yah bi, katanya ummi lagi nyiapin kejutan buat Ai, kejutannya apa bi?”, Aku menatap mereka berdua bergantian dengan wajah penasaran.
            “Hmm.. ia sayang, ummi lagi menyiapkan sebuah kejutan besar di perutnya. Hadiah yang sudah lama Ai tunggu, seorang adik”, jawaban abi sungguh mengagetkanku. Aku yang memang sudah lama berharap bisa menjadi seorang kakak, akhirnya bisa mendengar kabar gembira ini setelah umurku 14 tahun. Terimakasih Ya Allah..       
“Kalo ini, baru beneran kejutan. Makasih ummi dan abi”. Senangnya aku memeluk mereka berdua lengkap, ummi disebelah kananku dan abi di sebelah kiriku. Akhirnya keluarga kecilku akan bertambah dengan kehadiran adik kecilku nantinya.
***
Sore itu aku pulang dari rumah Lula yang ternyata memang dekat, langit sedang mendung. Aku pulang ke rumah dan mendapatkan ummi sedang pergi ke Rumah Sakit. Aku menunggu di rumah hanya ditemani pembantu rumah yang sedang menyiapkan makan malam. Aku tak tahu mengapa hatiku tak tenang, tapi kutepis jauh-jauh perasaan yang tidak karuan itu. Karena bisa jadi perasaan was was datang dari bisikan setan.
            Ummi pulang sendirian, tak kulihat sosok abi disampingnya. Aku langsung menghampirinya. Kulihat matanya sembab tak tahu mengapa. Walau sudah ia coba memperlihatkan senyumannya, tetap saja mata sembab itu tidak bisa tertutupi.
            “Ummi kenapa?”. Aku menghampirinya sembari menggandeng tangannya.
            “Enggak kenapa-kenapa kok Aisyah. Ummi baik-baik saja”. Jawab ummiku dengan tenang.
            “Trus kenapa ummi nangis?”. Heranku.
            “Ummi nggak nangis kok Ai, ummi Cuma kelilipan tadi. Alhamdulillah hasil check upnya baik-baik saja. Adikmu juga baik-baik saja kok Ai”. Ummi mulai meyakinkanku dengan semua alasannya. Tak tahu mengapa, saat itu aku sangat percaya dengan pernyataanya.
            “Yaudah mi, sekarang ummi istirahat yah. Adek jangan nakal, jagain ummi yah”. Kataku sambil mengelus perut ummi. Kulihat ummi tertawa melihat tingkahku. Tiba-tiba saja ummi jatuh, ummi memegang kepalanya dan memijitnya sekuat tenaga, aku yang saat itu sedang menggandeng tangannya bingung harus bagaimana mengangkat tubuhnya yang jatuh. Akhirnya dengan bantuan bibi, aku mengangkat ummi ke kamar untuk istirahat, sekali lagi aku melihat wajahnya yang sangat pucat.
Malam itu Abi pulang larut malam, tapi kulihat ummi masih saja melayani Abi dengan tulus. Ummi siapkan makanan, baju, dan juga air panas untuk Abi mandi. Hal yang sekarang baru aku sadar pada saat itu adalah, hari itu ummi tidak memberi tahu Abi bahwa ummi baru saja pergi ke rumah sakit yang berbeda dengan rumah sakit tempat abi bekerja. Ummi selalu memperlihatkan wajah cerianya selama ini. Wajah yang selalu menjadi motivasiku tiap kali bangun tidur.
***
Pernahku lihat saat tiba-tiba bangun dari tidur, ummi sedang berada di musholah rumahku sambil terduduk menangis. Saat itu tak pernah terpikir olehku bahwa ummi sedang memikul suatu kenyataan yang berat. Kenyataan yang harus kuakui bahwa selama ini aku sangatlah lengah, sangat tidak peka melihat semua itu. Setiap dispertiga malam aku melihat ummi selalu sholat dan menangis, tapi ketika pagi hari hingga malam datang ia selalu tersenyum ikhlas, tersenyum tanpa memperlihatkan beban sama sekali.
***
            Suatu waktu sehabis sholat shubuh berjama’ah, Abi meminta aku dan ummi agar tetap duduk diatas sajadah. Ia membalikkan badan kemudian menarik nafas dengan panjang. Pagi itu abi meminta izin kepada kami untuk pergi ke Makah sebagai dokter yang menangani jama’ah haji. Seperti biasa, tanpa minta izin pun, ummi pasti akan mengizinkan dan selalu mendukung keputusan abi menolong orang.
***
            Mulai saat itu beberapa kali ketika memasak aku melihat ummi menetaskan darah dari hidungnya, tapi ummi selalu beralasan bahwa ia mungkin sedang kecapaian. Tapi tak tahu mengapa, setiap kali ia memberi penjelasan tentang semua hal-hal aneh yang ia alami selama ini, selalu saja aku percaya alasanya dan aku tak pernah menyampaikannya pada Abi.
            Pernah juga dulu ummi minta diantarkan ke kamar, karena tak kuat berdiri lama-lama saat sedang menyiram tanaman. Entah mengapa ia terus menerus mengelus tulang punggungnya, kukira dahulu mungkin semua orang yang sedang hamil akan merasakan hal yang sama. Dan semua keminiman pengetahuanku terhadap penyakit ini membuat aku harus mengakui bahwa aku sudah terlambat selama ini.
***
Hari yang tidak pernah aku nantikan akhirnya hadir juga, hari dimana aku harus berpisah dengan ummi karena harus kembali ke pondok. Di hari yang sama pula, Abi harus pergi ke tanah suci dalam mengemban amanahnya itu. Pagi itu ummi memberikan pelayanan terbaik kepada kami. Kulihat hari itu ummi begitu sehat dan ceria, bisa kulihat ummi memakai bedak untuk menutupi mukanya yang pucat, mengantarkan kita pergi sampai depan rumah dan tak lupa memberikan senyuman indahnya itu. Sebelum berangkat aku mencium tangan ummi lama sekali, tak tahu kenapa rasanya seperti ingin berpisah lama, padahal aku hanya kembali ke pomdok seperti biasanya.
            “Tuntutlah ilmu sebaik-baiknya yah Aisyah sayang, kelak nanti agar bisa bermanfaat bagi orang banyak, dan bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anaknya”. Nasihat ummi sambil mencium keningku lama sekali, bisa kurasakan kehangatan itu. Kehangatan cintanya yang sangat dalam.
***
Di rumah, ternyata sosok perempuan yang lemah sedang dibawa ke rumah sakit oleh keluarganya. Mungkin karena rasa nyeri yang tak pernah selesai ia rasakan itu. Memang kanker itu penyakit yang begitu kejam. Sudah lama sekali dokter menyarankannya untuk di rawat di rumah sakit. Hari itu mungkin perempuan itu sedang di puncak rasa menahan sakitnya itu. Ia sadar bisa saja ia mulai mengambil tindakan setelah di vonis Leukimia 2 bulan yang lalu. Tapi tetap saja ia tak pernah ingin mengambil resiko dengan sebuah keputusan itu. Keputusan pertama yang selalu ditawarkan dokternya ketika ia tahu bahwa perempuan itu sedang mengandung, yaitu menggugurkan kandungannya. Mungkin alasan dokter sangatlah jelas, karena seorang yang mengalami Leukimia harus berjuang keras mempertahankan sel darah merah yang kian lama kian menurun untuk dirinya sendiri, tapi disisi lain perempuan ini harus membagi sel darah merahnya kepada janin yang sedang ia kandung. Pantas saja yang ia pilih adalah, jalan untuk tidak melakukan aksi sama sekali. Ia hanya meminta obat yang bisa diminum saja dan meyakinkan dokter bahwa ia akan istirahat di rumah.
Hari itu mungkin terlalu pilu juga bagi keluarganya mengetahui hal pahit itu. Hal pahit yang tidak pernah mereka sangka, bisa di pikul perempuan itu sendiri. Mereka sangat tahu bagaimana sikap keras dari perempuan itu, tapi untuk penyakit ini, kenapa baru sekarang mereka di beri tahu. Yang paling mengagetkan bagi mereka adalah, ternyata suami dan anak dari perempuan itu belum tahu perihal penyakitnya ini. Perempuan itu lebih memilih memperjuangkan keselamatan bayinya dengan menyerahkan sepenuhnya terhadap keajaiban. Keajaiban yang selalu ia pinta di setiap penghujung malam ia mendatangi Rabnya. Kekuatan yang berasal dari harapan besar keluarganya untuk melihat bayi kecil itu. Bayi yang sudah di tunggu-tunggu selama 14 tahun.
Perempuan itu sedang mengalami sesak nafas yang hebat, akhirnya dokter mengambil jalan cepat untuk memberinya oksigen. Ibu dari perempuan itu selalu memberikan semangat disampingnya. Ia tahu betapa hebat anaknya melawan penyakit itu selama ini. Benar-benar terkaget Ibu dari perempuan itu, saat anaknya dinyatakan mengidap Leukimia. Padahal boleh dikatakan selama ini, perempuan ini adalah anaknya yang sangat jarang sakit. Bisa dihitung kapan saja ia harus terbaring di tempat tidur karena sakit. Sungguh tak menyangka ibunya, penyakit itu bisa cepat menyerang putri sulungnya itu. Sebagaimana pernyataan dokter bahwa perempuan ini terkena penyakit Leukimia akut. Dokterpun tidak menyangka selama ini perempuan itu masih bisa kuat melawan penyakitnya. Biasanya untuk penderita leukemia akut Apabila tidak segera diobati, maka dapat menyebabkan kematian dalam hitungan minggu hingga hari.
Saudara dari perempuan itu mencoba mengabarkan suaminya, yang mereka semua tahu ia sedang berada di Makah saat itu.
***
Tidak tahu mengapa belakangan ini, ia selalu teringat dengan senyuman istrinya. Sudah 2 minggu sejak ia mengambil keputusan untuk menjadi tim medis untuk jama’ah haji. Begitu sampai masih bisa ia dengar suara istrinya yang tenang, yang selalu menjadi penggugur semua rindu yang merasuk dadanya. Tapi mulai 1 minggu lalu, sulit sekali ia menghubungi istrinya, Dari telepon rumah sampai nomer istrinya ia hubungi, tapi taka da satupun yang aktif.
            Sore itu saat orang-orang di Makkah telah melaksanakan sholat ashar, pemuda itu mengambil keputusan untuk berdiam diri, dan mengadukan semua hal yang ia rasakan kepada Rabnya. Ia memulai menyalakan HP-nya yang sudah ia set getar, agar tidak dimarahi penjaga masjid di Makkah. Ternyata ada 2 nomer Indonesia yang baru saja menelfon. Melihat nomer itu tiba-tiba mengingatkan kepada sosok yang sedang ia rindukan saat itu. Ia berniat menelfon balik tapi sebelumnya ia berdo’a.
            “Ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Terimakasih karena selama ini telah memberikan keluarga yang sempurna untukku, memberiku seseorang pendamping yang luar biasa dan memberi kesempatan untuk membesarkan seorang putri yang saat ini sedang menuntut ilmu di pesantren. Sungguh besar karuniamu selama ini, aku mohon maaf ya Allah, jika sampai detik ini aku masih belum bisa menjadi hambaMu yang benar-benar beriman, yang kadang terus mengeluh dengan apa yang terjadi di muka bumi ini. Ya Allah, sulit bagi hamba menahan semua perasaan khawatir ini, tapi tak kuat lagi hamba tahan. Hamba memikirkan istri hamba ya Allah, Kuatkanlah Ia dalam menerima setiap cobaan yang Kau beri, istri sholihah yang selalu membuat hamba ceria. Sebelum berangkat hamba selalu melihat mukanya yang pucat, tapi lagi-lagi hamba harus menahan sikap ingin tahu itu, hamba menghargai semua usaha istri hamba menahan semua penyakitnya itu. Sungguh ingin sekali hamba berada disampingnya saat ia mengalami masa-masa kritis, tapi dari semua pelayanannya, hamba tidak ingin menjadi beban pikiran lagi saat harus ikut menangis melihat keadaanya yang semakin melemah. Sebagai dokter hamba punya firasat yang kuat tentang suatu penyakit yang sedang ia derita, tapi jauh-jauh selalu hamba tepis. Hamba takut menerima kenyataan nantinya. Tapi lagi-lagi itu semua hanya masih dalam pikiran hamba. Ya Allah sulit sekali rasanya menghubunginya. Hamba mohon, langsung dari rumahMu yang suci ini, sembuhkan semau penyakit yang menimpanya. Berikan selalu kekuatan terhadap dirinya. Berikan selalu ia kekuatan ya Allah. Kalau boleh, biar hamba saja yang merasakan semua itu, biar hamba saja yang merasakan semua sakit yang sedang ia derita. Hamba mohon berikan ia selalu kekuatan Ya Allah.”. Doa pemuda itu, saat mulai lagi kekhawatiran berlebh merasuk pikirannya.
Sungguh saat ia menerima sms selanjutnya yang mengabarkan istrinya masuk rumah sakit karena terkena leukemia, ia tidak pernah membayangkan hal itu yang menjadi penyakit yang selama ini istrinya tahan. Hari itu juga ia memohon kepada atasanya untuk pulang ke Indonesia, dan menghubungi rekanya yang bisa menggantikan posisinya saat itu. Di perjalan tidak henti-hentinya ia berdzikir, berdo’a dan menangis.
***
Disaat aku baru saja pulang sekolah, tiba-tiba kudengar pusat informasi menyuruhku pergi ke kantor pengurus asrama. Saat dipanggil, kurasakan getaran hebat dalam diriku. Aku tak tahu mengapa tapi aku tahu ada hal yang tidak beres. Saat aku sampai di sebuah ruangan. Disana ada pembimbing asramaku sedang duduk dan menyuruhku duduk di depannya.
            “Bismillahirrohmanirrohim”. Ia memulai membuka pembicaraan, tapi mendengar kalimat itu keluar dari mulut ustadzah, aku langsung ingat seseorang. Seseorang yang pertama kali mengajarkan kaliamat bsmillah hirrohman nirrohim.. Dengan Menyebut nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maha Pengasih.. lagi Maha Penyayang. Ummiii.. tiba-tiba sebuah guncangan hebat membuat hati dan otakku segera saja ingin bertemu ummiku. Sebelum ustadzah memulai pembicaraan, aku langsung keluar dari ruangan itu dan tepat di luar ruangan aku melihat tanteku, adik ummi sudah memelukku dan berkata.”Ayo kita pulang”.
Matanya yang sembab membuatku makin khawatir dengan semua keadaan ini. Aku tak bisa berhenti menangis walau masih tak tahu apa penyebab aku diajak pulang oleh tanteku itu. Saat itu aku terus memikirkan ummi, tidak tenang dan terus mendo’akannya selama perjalanan pulang. “Ya Allah apa yang sedang terjadi dengan ummi. Berikan selalu kekuatan kepada dirinya ya Allah”.
Di perjalanan pulang, tanteku menjelaskan semuanya yang sedang terjadi pada ummi saat ini.
***
Di salah satu Rumah Sakit yang memang khusus menangani penderita kangker. Kulihat ummi sedang tebujur di tempat tidur lemah. Saat itu ada oksigen yang membantu ia bernafas dan infus yang menusuk tanganya. Dari kejauhan aku melihat abi datang dengan mata sembab. Aku tahu saat itu abi sedang berusaha menghapus kesedihannya agar bisa menguatkan ummi. Melihat abi mencuci muka, akupun ikut mencuci muka dahulu sebelum masuk kedalam ruangan ICU itu. Aku bersama abi akhirnya duduk disamping ummi.
            “Ummi sayang, jangan khawatir yah. Abi selalu disamping ummi. Ini juga ada Ai disamping Abi”. Aku kemudian tersenyum kepada ummi. Sungguh aku tak bisa sekuat Abi, akhirnya pertahananku menahan air mata bobol juga. Aku menangis sejadi-jadinya, tapi ummi hanya menatapku dan mengelus pipiku mencoba menghapus air mataku. Kemudian aku pegang tangannya lekat dan kupeluk.
            “Bi, ma..afin um..mi yah”. Ummi menjawab dengan terbata. Kemudian Abi membalas dengan mencium kening ummi lama sekali. Aku bisa melihat air matanya keluar, tapi langsung saja ia hapus sebelum ummi menyadari hal itu.
            “Maaf untuk apa mi.. Abi justru yang ingin berterimakasih karena selama ini selalu menjadi istri abi yang sholihah, melayani Abi dengan baik, menjadi ibu bagi Ai yang selalu mengajarkan kebaikan. Terimakasih ya ummi sayang”. Abi terus memberi kekuatan kepada ummi.
            “Ma afin um..mi yang belum bisa memberi adik untuk Ai sampai saat ini”. Ummi melihat aku dan Abi bergantian.
            “Ia ummi, Ai nggak apa-apa kok ga punya adik. Ai Cuma ingin ummi sehat lagi”. Aku mulai lagi dengan tangisan hebatku. Aku memang tak sepandai abi menahan kesedihan ini.
            “Ia ummi, ummi pasti bisa sembuh.. ummi pasti bisa kuat lagi, kumpul sama kita. Ummi pasti bisa kuat.. semangat yah ummi.. insya Allah kita selalu mendo’akan ummi”. Jawab abi menyalurkan kekuatan kepada kami berdua.
            “Bi, Ai.. sejujurnya ummi udah nggak sanggup lagi menahan ini semua, boleh tidak kalian mengizinkan ummi untuk istirahat?”. Aku tau maksud perkataan ummi, langsung saja aku menggeleng. Aku tak mau hal itu terjadi, sungguh tak mau.
            “nggak boleh”. Jawabku sambil menangis lagi.
            “Ai.. biarkan ummi istirahat”. Sungguh begitu besar cinta Abi terhadap ummi sampai ia rela berkata begitu, ia mungkin juga tahu bagaimana menderitanya ummi harus menahan itu semua.
            “Nggak maauuu”. Aku tetap saja menggeleng dan menangis.
            “Ai sayang. Ummi Cuma istirahat kok, ummi selalu bersama Ai, ummi akan selalu ada di hati Ai”.Ummi menunjuk dadaku.
            “Aisyah anak ummi yang kuat. Jadilah Aisyah sesungguhnya yah anakku, wanita yang cantik, cerdas, serta luas ilmunya. Jadilah ibu yang baik juga nantinya untuk anak-anakmu”. Sekali lagi ummi membuatku tak bisa berkata apa-apa.
            “Bi.. maafin ummi yah, yang selama ini belum bisa menjadi istri yang baik buat Abi. Setelah ummi istirahat nanti, abi harus mencari ummi lain buat Aisyah yah”. Kata ummi sambil menatap abi dan memegang pipi abi. Abi tak kuat lagi menahan semua itu, akhirnya ia mulai menangis. Saat itu pula umi mulai sesak nafas kembali, sulitnya ia bernafas menyebabkan kata-katanya yang kurang jelas.
            “Ummi juga akan selalu di hati Abi, insya Allah ummi akan menjadi yang terakhir untuk Abi. Semoga kita bisa dipertemukan lagi di surgaNya nanti”. Jawab Abi meyakinkan, dapat kuliat saat itu begitu besar cinta Abi.
            “Aisyah juga nggak mau jadi anak durhaka mi, Ai ikhlas kalau ummi harus istirahat sekarang”. Kataku sambil memandang ummi dengan sayang.
“Asyhadu alaa.illaha..illallah wa Ashadu anna muha..mmadarrosulu llah”. Begitu cepat ummi mengeluarkan nafas terakhirnya. Setelah mengucapkan kedua kaliamat syahadat. Aku tak bisa berhenti menangis melihat kepergian ummi. Abipun tak henti-hentinya mencium kening ummi. Saat itu hari Jum’at, dan ummi meninggal tapat setelah adzan ashar berkumandang. Semoga ummi termasuk hambaNya yang husnul khotimah. Tak pernah berhenti aku berdo’a setiap hari agar bisa masuk syurgaNya, dan dapat berkumpul kembali dengan keluarga kecilku bersama dengan adik yang belum sempat aku lihat wajahnya.-END-

Sangat butuh komentar kalian.. untuk mencapai tahapan keabadian ini.. Cerpen pertama yang saya buat karena tugas dari mentoring kelompok 3 FLP Ciputat. Semoga bisa terus berkembang menjadi penulis yang hebat.. amiin.. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar